Maraknya Perdagangan Bayi di Indonesia

ABSTRAK

Anak-anak adalah generasi bangsa yang akan datang, kehidupan anak-anak merupakan cermin kehidupan bangsa dan negara. Kehidupan anak-anak yang diwarnai dengan keceriaan merupakan cermin suatu negara yang memberikan jaminan kepada anak-anak untuk dapat hidup berkembang sesuai dengan dunia anak-anak itu sendiri. Kehidupan anak-anak yang diwarnai dengan rasa ketakutan, traumatik, sehingga tidak dapat mengembangkan psiko-sosial anak, merupakan cermin suatu negara yang tidak peduli pada anak-anak sebagai generasi bangsa yang akan datang. Disisi lain masa anak-anak merupakan masa yang sangat menentukan untuk terbentuknya kepribadian seseorang.

Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan penduduk yang setiap tahunnya meningkat. Dengan jumlah penduduk sebesar 225 juta jiwa, membuat tekanan terhadap lingkungan hidup menjadi sangat besar yang membuat banyak penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan.

Masyarakat sudah sangat muak dengan permainan-permainan di tubuh pemerintahan, karena ingin berfokus dengan masalah korupsi pun malah semakin terbelit-belit. Sehingga kepedulian terhadap rakyat kecil hampir tidak ada sama sekali.

Mereka menyetujui anaknya ditukarkan dengan harga uang, tidak sama sekali tahu menahu mau dikemanakan anak mereka itu, mau diapain nanti setelah anak mereka dirawat oleh orang lain. Yang ada di pikiran mereka adalah ingin terhindar dari kesusahan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

Akhirnya, apapun alasan yang dikemukakan, tetap saja, bayi bayi mungil nan lucu itu adalah manusia. Manusia yang tak layak untuk diperjual belikan layaknya barang. Maka, masihkah penguasa akan menutup mata dengan persoalan ini? Maka masihkah masyarakat akan abai dengan kondisi sekitar? Penanganan kasus Perdagangan anak merupakan permasalahan yang kompleks, Jadi sudah seharusnya semua pihak memberikan perhatian khusus dalam menangani masalah ini.

BAB I. PENDAHULUAN

I.1. Latar belakang

Puji dan syukur saya panjatkan khadirat Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan karuniaNya dalam rangka memenuhi kebutuhan mata kuliah Perekonomian Indonesia di Universitas Gunadarma mengenai Sistem perekonomian di Indonesia , maka saya membuat karya tulis tentang Maraknya Penjualan Bayi di Indonesia. Dengan adanya tulisan ini disamping untuk memperluas wawasan  ilmu pengetahuan , Mahasiswa dapat memahami tentang pengertian sistem perekonomian yang ada , dan dapat menumbuhkan pemikiran yang kritis . Saya berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan karya tulis ini.

Harapan saya semoga hasil karya tulis ini dapat bermanfaat semaksimal mungkin bagi pembacanya .

I.2.Tujuan Penulisan

2.a. Tujuan Umum

Untuk memenuhi kebutuhan mata kuliah Perekonomian Indonesia di Universitas Gunadarma.

2.b. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui dan menambah wawasan ilmu pengetahuan mengenai sistem perekonomian di Indonesia serta mampu berfikir kritis dan berani mengemukakan pendapat.

I.3. Manfaat Penulisan

  1. Mengetahui apa yang menjadi masalah dari penjualan bayi di Indonesia.
  2. Mengetahui sudah sejauh mana pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
  3. Mengetahui faktor terjadinya penjualan bayi.
  4. Mengetahui akibat yang timbul dari penjualan bayi.

I.4. Metode Penulisan

Kajian Pustaka

Dalam penyusunan tugas ini , perlu sekali pengumpulan data serta sejumlah informasi yang aktual , metode pengumpulan data browsing dari internet.

BAB II. ISI LAPORAN

          II.1.Landasan Teori

          Perdagangan Anak merupakan masalah sosial yang tidak bisa dilepaskan dalam negara berkembang. Eksistensi setiap manusia , dalam mengejar pemenuhan kebutuhan termasuk upaya mengingkatakan kesejahteraan. Dan  perlu menjadi perhatian semua pihak, khususnya di bidang penegakan hukum dalam penerapannya secara tegas diatur oleh Undang-Undang.

Perekonomian yang tidak konstan dan tidak menjamin para rakyat kecil inilah yang menimbulkan berbagai spekulasi dan merajalelanya tingkat kejahatan dalam negeri tercinta. Dalam paper ini saya akan membahas masalah tentang  ” trafficking” ( perdagangan anak ) yang kini rentan terjadi belakangan ini.

Pengingkaran terhadap kemuliaan hak asasi seorang anak akan terjadi apabila ada seseorang yang tidak lagi memandang seorang anak sebagai sebuah subyek yang sama dengan dirinya, akan tetapi lebih pada sebagai sebuah obyek yang bisa diperjualbelikan demi keuntungan pribadi.

Norma-norma Hukum Penghapusan Perdagangan Anak :

  1. Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia PBB 1948. tidak secara tegas berkaitan dengan perdagangan orang, khususnya anak, tetapi sebagai suatu deklarasi yang menegaskan setiap individu mempunyai hak bebas, yang secara mendasar terbebas dari trafiking.
  2. Konvensi Hak Anak 1989 , Secara tegas mengatur hak anak yang berbeda dengan orang dewasa. Pada pasal 34 dan 35 berkaitan dengan penentangan terhadap eksploitasi seksual, perlakuan salah secara seksual, dan perdagangan anak.
  3. Opsional Protokol Konvensi Hak Anak terhadap Penjualan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak.
  4. KILO 182 Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terpuruk Anak , Sangat berkait erat dengan pekerja anak.
  5. Protokol , Protokol ini secara tegas menyebutkan anak “berarti setiap orang yang usianya di bawah delapan belas tahun.”
  6. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-undang ini mengatur secara tegas tentang perdagangan anak.

II.2. Pembahasan

            Berita tentang penjualan bayi begitu marak muncul di berbagai media. MasyaAllah, sedih rasanya. Di satu sisi, semua fakta itu menimbulkan tanda tanya, apakah benar ada orang tua, atau ibu yang tega menjual bayinya, darah dagingnya sendiri. Di sisi lain, tak pula dapat ditampik bahwa ternyata ada alasan mencengangkan yang menyebabkan orang tua rela menjual bayinya. Yang pertama adalah himpitan ekonomi. Begitulah setidaknya pengakuan sebagian ibu yang menjual bayinya. Ya Allah, mungkin para ibu itu lupa, bahwa setiap makhluk Allah telah ada rizqinya masing-masing. Namun, selayaknya fakta ini menjadi cambuk yang menyadarkan para pemimpin negeri ini. Bahwa tekanan ekonomi memang begitu berat dirasa. Kemiskinan begitu dekat dengan masyarakat sementara tak sedikit penguasa yang berlimpah harta. Akhirnya, saat biaya hidup begitu mahal, termasuk biaya persalinan, ibu-ibu itu lalu ‘mewajarkan’ pilihan untuk menjual bayinya.

Lalu terlepas dari kasus kemiskinan, ada pula penjualan bayi yang merupakan hasil di luar nikah. Naudzubillah. Negeri ini memang negeri muslim terbesar, namun tak dapat dipungkiri bahwa pergaulan bebas telah terjadi dimana-mana. Beginilah saat kebebasan menjadi standar. Setiap orang bebas melakukan perbuatan yang ia inginkan. Suburnya pornografi, prostitusi, adalah salah satu dampak saja. Namun, yang menjadi korban pada akhirnya adalah anak yang tak berdosa. Pilihan mereka seakan hanya dua: diaborsi atau dijual saat telah lahir. MasyaAllah.

Ada beberapa modus yang dipakai oleh sindikat penjualan bayi yaitu :

  1.  Mendatangi wanita hamil dari kalangan ekonomi menengah bawah. Modusnya menawarkan  jasa melahirkan kemudian dititip sampai si ibu menebus uang melahirkan namun ternyata dijual.
  2. Menawarkan bantuan untuk mengadopsi anak. Sasaran sindikat adalah dari keluarga yang ekonominya lemah. Sindikat merayu ibu korban agar anaknya dapat diadopsi.
  3. Sindikat melibatkan pihak dalam seperti bidan. Pencurian bayi yang melibatkan tim medis, biasanya terjadi di Puskesmas atau klinik bersalin yang lemah dalam pengamanan.Pernah  terjadi mendapatkan laporan 37 bayi hilang di rumah sakit, klinik bersalin dan Puskemas yang lemah pengawasan dan pengamanan. Bayi yang diculik berusia lima hari.
  4. Sindikat berselubungkan “Panti Asuhan”. berpura-pura mengadopsi bayi-bayi malang itu. Bayi yang dibeli dengan harga 1-2 juta rupiah tersebut kemudian dijual ke luar negeri dengan kisaran 70-80 juta per bayi.
  5. Sindikat ini bekerja dengan leluasa sampai – sampai ada penjualan anak yang muncul di situs jual beli tokobagus.com Menurut kabar jaringan sindikat penjualan anak ini diduga bekerjasama dengan jaringan sindikat luar negeri.

Sekarang modus yang sering dilakukan adalah meminta baik-baik ke orang tua si bayi.  Pada masyarakat ekonomi lemah dan kurang berpendidikan, persoalan yang dihadapi anak adalah buruh anak atau anak bekerja layaknya orang dewasa untuk membantu perekonomian keluarga. Mereka bekerja untuk mencari uang karena paksaan kondisi ekonomi dan ada juga karena dipekerjakan oleh orangtua mereka bahkan ada juga yang tega menjual anaknya sendiri.

Ada pula, orangtua yang telah menjual anaknya yang masih dalam kandungan. Dengan sistem ijon, sindikat perdagangan anak telah membayar si jabang bayi yang masih dalam kandungan. Begitu lahir, anak tersebut diambil oleh si pembeli. Kasus lainnya adalah menculik anak yang baru lahir dan kemudian dijual kepada sindikat perdagangan anak.

Faktor-faktor penyebab Perdagangan anak :

  1. Kemiskinan (permasalahan ekonomi)
  2. Keinginan Cepat Kaya
  3. Kurangnya Pencatatan Kelahiran
  4. Kurangnya Pendidikan
  5. Korupsi & Lemahnya Penegakan Hukum
  6. Kurangnya pendidikan dan informasi Kekurangtahuan akan informasi
  7. Terjerat hutang
  8. Kehancuran keluarga (broken home)
  9. Terbatasnya kesempatan kerja .
  10. Akibat peperangan
  11. Budaya

Penelitian ILO-IPEC tahun 2003 di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Jakarta, dan Jawa Barat memperkuat bahwa trafiking di Indonesia merupakan masalah yang sangat kompleks karena juga diperluas oleh faktor ekonomi dan sosial budaya. Kualitas hidup miskin di daerah pedesaan dan desakan kuat untuk bergaya hidup materialistik membuat anak dan orang tua rentan dieksplotasi oleh trafiker. Disamping diskriminasi terhadap anak perempuan, seperti kawin muda, nilai keperawanan, pandangan anak gadis tidak perlu pendidikan tinggi menjadi kunci faktor pendorong. Anak-anak yang ditrafiking bekerja dengan jam kerja relatif panjang dan rawan kekerasan fisik, mental, dan seksual. Mereka tidak mempunyai dukungan atau perlindungan minimal dari pihak luar. Kesehatan mereka juga terancam oleh infeksi seksual, perdagangan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Menurut Kak Seto, kasus penjualan anak memang mulai terungkap ke permukaan. Hal ini didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat. Pihaknya meminta agar masyarakat dan orangtua lebih waspada. ”Ada bayi yang diculik, lalu dibunuh, diambil organ tubuhnya, lalu diisi dengan narkoba,” tuturnya. Sungguh tindakan itu sudah melampaui batas-batas kemanusiaan.

Menyangkut kasus perdagangan anak yang terjadi di Indonesia semakin marak. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian Pemerintah terhadap masyarakat bawah dan terlalu bebasnya gerak warga asing di Indonesia. Ditambah lagi dengan adanya permainan aparatur Pemerintah dalam hal pemalsuan data.

Sungguh miris memang nasib generasi penerus bangsa ini yang berada dibawah garis kemiskinan, orangtua yang tak berdaya karena keadaan tega menjual darah dagingnya sendiri demi uang yang tak seberapa. Harapan para orangtua agar buah hati mereka mendapat masa depan yang lebih baik malah dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mencoba mencari keuntungan ditengah derita mereka.

Menurut pengamatan Erlangga, praktik perdagangan anak di Indonesia sudah terjadi sejak tahun 1960-an. Fakta yang kerap terjadi, para korban yang dijual ke luar negeri akan dibesarkan untuk dipaksa ikut dalam bisnis seksual, atau mengalami pemaksaan transplantasi organ tubuh. Belakangan ini isu perdagangan anak kembali muncul di pemberitaan media massa, setelah aparat Kepolisian Resor Metropolitan Jakarta Barat mengungkap praktik penjualan bayi oleh sindikat internasional.

Upaya yang dilakukan penegak Hukum dan semua pihak yang terkait dalam menangani atau mencegah Perdagangan Anak :

Hal yang harus dilakukan bersama dalam mencegah perdagangan anak yaitu :

  1. Membuat pemetaan masalah perdagangan anak di lndonesia baik untuk tujuan domestik maupun lnternasional.
  2. Meningkatkan pendidikan masyarakat khususnya pendidkan alternatif bagi anak-anak dan perempuan termasuk meningkatkan sarana dan prasarananya
  3. Meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui pemberian informasi yang seluas-luasnya tentang perdagangan orang beserta seluruh aspek yang terkait didalamnya.
  4. Perlu adanyanya jaminan dalam aksebilitas terhadap anak-anak dan perempuan yang mencakup masalah pendidikan, pelatihan peningkatan pendapatan dan pelayanan social.

Upaya yang dilakukan penegak Hukum dalam menangani atau mencegah Perdagangan Anak:

  1. Mereview dan membuat aturan hukum (pembenahan aspek substansial) yang lebih akomodatif dan lebih tegas terhadap kejahatan Perdagangan Anak (Child Trafficking).
  2. Meningkatkan profesionalisme, perlunya jalinan yang padu dan sistemik antar  aparatur  penegak  hukum,  Pemerintah  Daerah  dan  seluruh steakholder yang concern dan terkait dalam upaya penanggulangan maraknya trafficking.

Banyak hal yang harus dilakukan oleh semua pihak  didalam memerangi atau mencegah child trafficking, antara lain:

  1. Terus menerus melakukan kampanye guna membangun kesadaran permanen dikalangan masyarakat maupun sector industri, juga komitmen pemerintah dan penegak hukum guna mendukung perlindungan anak dari child trafficking.
  2. Mewujudkan mekanisme kerjasama dan aksi dalam segenap institusi masyarakat dan lembaga-lembaga usaha yang bisa bersinergi untuk memberikan perlindungan anak dari child trafficking.
  3. Tersedianya mekanisme nasional dan daerah – antara lain dengan cara bersinergi dalam bentuk task force (kelompok kerja) yang bisa langsung bekerja di lapangan secara komprehensif dan terus menerus didalam memberikan perhatian dan penanganan perlindungan anak dari kejahatan child trafficking.
  4. Perlunya dikeluarkan produk hukum anti child trafficking yang pro perlindungan anak dari dari tindak pidana perdagangan anak dan bertujuan untuk perlindungan hukum bagi anak korban child trafficking.

            Yang paling utama dilakukan untuk mencegah supaya tidak terjadi lagi perdagangan anak adalah mensejahterakan masyarakat bawah. Pemerintah harus benar-benar merespon apa yang sebenarnya diinginkan oleh masyarakat kalangan bawah. Berilah kesempatan kepada masyarakat untuk berbicara dan bercurhat terhadap perjalanan hidup mereka.

Apabila masyarakat kalangan bawah membutuhkan pelayanan kesehatan gratis, bantuan biaya hidup secukupnya. Maka pemerintah harus mencari cara supaya permintaan dan harapan masyarakat kalangan bawah itu terpenuhi.

Dengan merespon dan menindaklanjuti segala keinginan dan harapan masyarakat, saya kira kasus-kasus seperti perdagangan anak tidak akan terjadi lagi. Walaupun membutuhkan proses yang agak lama. Setidaknya akan berkurang, berkurang dan berkurang.

Setelah merespon dan menindaklanjuti segala harapan dan permintaan masyarakat, berilah sebuah pemahaman kepada mereka untuk saling mencintai sesama keluarga. Dengan demikian kasus seperti itu dan lainnya akan hilang dalam kalangan masyarakat bawah.

BAB III. PENUTUP

III.1. Kesimpulan

Meski belum menjadi seorang istri, apalagi seorang ibu, tapi bukan berarti kita tak bisa memahami kasih ibu pada anaknya. Bahwa 9 bulan ibu mengandung, hari demi hari menanti kelahiran buah hati, menahan berat yang semakin bertambah serta melakukan perjuangan luar biasa saat melahirkan, semua dapat kita lihat. Bahwa “kasih ibu sepanjang masa” –pun rasanya belum tergantikan dengan istilah manapun.

Untuk itu, saya berharap agar semua orang tua lebih waspada. Jangan begitu saja terkena tipu muslihat orang yang merayu ibu yang tidak mampu untuk memberikan biaya persalinan, dan menitipkan anaknya setelah lahir. Kewaspadaan juga harus ditingkatkan kepada orang yang berupaya menyamar jadi petugas medis di RS atau puskesmas.

Perdagangan bayi sudah sepatutnya pelaku dikenakan pasal berlapis.Kejahatan seperti ini tak bisa ditolerir pasalnya anak sebagai golongan yang harus dilindungi menjadi terancam.

Daftar Pustaka

http://jogja.tribunnews.com/2013/02/06/waspadai-maraknya-penculikan-bayi/

http://rri.co.id/index.php/berita/42391/Penjualan-Bayi-Marak-Ini-Modusnya-#.UYZVHvVKaTY

http://ycareaoc.blogspot.com/2013/03/residence-12-marak-penjualan-anak.html

http://setiawatiita.blogspot.com/2012/03/maraknya-perdagangan-anak-yang-melanda.html

http://agushareblog.blogspot.com/2013/02/maraknya-sindikat-penjualan-anak.html

http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/90/news/130207165807/limit/0/Akibat-Kemiskinan-Menjerat-Perdagangan-Anak-Marak

http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/penjualan-bayi-semakin-marak-tanggung-jawab-siapa.htm#.UYZULfVKaTY

http://media.kompasiana.com/new-media/2013/02/14/maraknya-perdagangan-anak-akibat-pemerintah-terjebak-masalah-korupsi-528588.html

http://www.tempo.co/read/news/2013/02/08/064460044/Iklan-Jual-Bayi-di-Tokobagus-11-Saksi-Diperiksa

http://hukum.tvonenews.tv/berita/view/66907/2013/02/08/kriminolog_pejabat_terlibat_perdagangan_anak_perlu_pembuktian.tvOne

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s