Pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA dan sederajat 2013

ABSTRAK

Semua anak Indonesia belajar untuk meraih masa depan. Tak terkecuali anak-anak Indonesia yang berada di ujung-ujung pulau Indonesia, mereka punya cita-cita dan harapan dalam menyongsong masa depannya. Di Indonesia tidak pernah luput dari pro dan kontra. Sistem pendidikan yang terkadang dinilai tidak konsisten, selalu berganti kurikulum. Belum maksimal penerapan kurikulum yang satu ganti lagi dengan kurikulum yang lain.

Lulusan pendidikan saat ini cenderung bersikap sekuler, materialistik, rasionalistik, hedonistik. Akibatnya, kini banyak sekali pelajar yang terlibat tawuran, melakukan tindakan kriminal, pencurian penodongan, penyimpangan seksual, menyalah-gunakan obat-obatan terlarang dan sebagainya.Pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA/MA/SMK tertanggal 15 April sampai 18 April tahun ini benar-benar kacau. Muncullah sederet pertanyaan bagaimanakah dengan kualitas siswa yang berhasil lulus Ujian Nasional tahun ini ? Apakah mampu menciptakan lapangan kerja baru ? Apakah mampu bersaing dengan di dunia kerja ? Apakah akan menambah jumlah pengangguran di Indonesia atau mampu mengurangi angka pengangguran di Indonesia? Berujung pada adanya peningkatan jumlah pengangguran adalah tamatan pendidikan !!! Menjadi pemborosan sumber daya dan potensi yang ada, menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang.

Seharusnya pemerintah lebih selektif lagi dalam menyeleksi siswa yang patut dan layak untuk di luluskan , dan dengan adanya ujian nasional setiap tahunnya pemerintah lebih memperketat kerahasiaan soal ujian , disiplin , tepat waktu sehingga kejadian seperti tahun ini tidak terulang kembali ditahun yang akan datang. Meski belum mampu menyediakan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak kita tetapi paling tidak berikanlah mereka pendidikan yang tepat dan benar.

Begitu juga Para siswa/siswi peserta Ujian Nasional SMA dituntut mampu berfikir kreatif , inovatif ,disiplin , sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru yang nantinya akan mengurangi angka pengangguran di Indonesia .Tetapi apakah bisa dengan kenyataannya penyelenggaraan Ujian nasional yang seperti ini mampu melahirkan generasi muda yang dibutuhkan untuk dapat mengembangkan mimpi menciptakan lapangan kerja baru agar mengurangi pengangguran yang ada . Itulah yang menjadi tugas pemerintah dan tugas untuk kita semua untuk mewujudkannya.

 

BAB I. PENDAHULUAN

I.1. Latar belakang

Puji dan syukur saya panjatkan khadirat Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan karunianya dalam rangka memenuhi kebutuhan mata kuliah Perekonomian Indonesia di Universitas Gunadarma mengenai bagaimana sistem perekonomian di Indonesia , maka saya membuat karya tulis tentang Pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA dan sederajat. Dengan adanya tulisan ini disamping untuk memperluas wawasan  ilmu pengetahuan , Mahasiswa dapat memahami tentang pengertian sistem perekonomian yang ada , dan dapat menumbuhkan pemikiran yang kritis . Saya berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan karya tulis ini.

Harapan saya semoga hasil karya tulis ini dapat bermanfaat semaksimal mungkin bagi pembacanya .

I.2.Tujuan Penulisan

2.a. Tujuan Umum

Untuk memenuhi kebutuhan mata kuliah Perekonomian Indonesia di Universitas Gunadarma.

2.b. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui dan menambah wawasan ilmu pengetahuan mengenai sistem perekonomian di Indonesia serta mampu berfikir kritis.

I.3. Manfaat Penulisan

  1. Mengetahui apa yang menjadi masalah pengangguran di Indonesia
  2. Mengetahui sudah sejauh mana sistem pendidikan di Indonesia
  3. Mengetahui akibat yang timbul dari pengangguran

I.4. Metode Penulisan

Kajian Pustaka

Dalam penyusunan tugas ini , perlu sekali pengumpulan data serta sejumlah informasi yang aktual , metode pengumpulan data browsing dari internet.

BAB II. ISI LAPORAN

            II.1. Landasarn Teori

            Pengangguran adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah “pengangguran terselubung” di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.

II.2. Pembahasan

            Jika ada pertanyaan kebijakan pendidikan apa yang paling kontroversial di Indonesia saat ini? Tampaknya  sebagian besar orang akan menunjuk pada dua kata yaitu Ujian Nasional.  Sejak kelahirannya tahun 2005, di masyarakat (umum, praktisi maupun teoritisi pendidikan), kebijakan Ujian Nasional senantiasa menjadi bahan perdebatan yang tajam. Kelompok pendukung ujian nasional menganggap bahwa ujian nasional masih diperlukan untuk kepentingan pengendalian mutu pendidikan secara nasional dan penegakan akuntabilitas pengelola dan penyelenggara pendidikan. Sementara,  pihak yang menolak Ujian Nasional menganggap bahwa kehadiran Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan telah banyak madlaratnya dari pada manfaatnya, baik dilihat dari sisi psikologis, ekonomis, yuridis dan terutama pedagogis.

Untuk meredusir polemik dan masalah penyelenggaraan Ujian Nasional,  sejak tahun 2011 pemerintah telah berkompromi dengan menetapkan “sharing”  kontribusi penentuan kelulusan siswa menggunakan formulasi : 40% nilai sekolah dan 60% nilai ujian nasional. Tetapi ketentuan ini tampaknya belum menjadi obat mujarab, malah beresiko memunculkan masalah baru dalam bentuk praktik penggelembungan (bubble) nilai siswa, yang tidak menggambarkan kemampuan sebenarnya.

Lulusan pendidikan saat ini cenderung bersikap sekuler, materialistik, rasionalistik, hedonistik, yaitu manusia yang cerdas intelektualnya dan terampil fisiknya, namun kurang terbina mental spiritualnya, dan kurang memiliki kecerdasan emosional. Akibatnya, kini banyak sekali pelajar yang terlibat tawuran, melakukan tindakan kriminal, pencurian penodongan, penyimpangan seksual, menyalah-gunakan obat-obatan terlarang dan sebagainya.
Secara konseptual, sistem pendidikan di Indonesia telah diatur dalam undang –undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang ini telah diatur mengenai: dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan, hak warga negara untuk memperoleh pendidikan, satuan, jalur dan jenis pendidikan, jenjang pendidikan, peserta didik, tenaga kependidikan, sumber daya pendidikan, pengelolaan, pengawasan, ketentuan lain-lain, ketentuan pidana dan ketentuan peralihan.

Semua anak Indonesia belajar untuk meraih masa depan. Tak terkecuali anak-anak Indonesia yang berada di ujung-ujung pulau Indonesia, mereka punya cita-cita dan harapan dalam menyongsong masa depannya.

Tetapi sangat di sayangkan tidak seperti tahun sebelumnya,Tercatat Pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA/MA/SMK tertanggal 15 April sampai 18 April tahun ini benar-benar kacau. Banyak pihak yang mengeluh tentang pelaksanaan UN tahun ajaran 2012/2013 yang tidak terencana dengan baik. Beberapa kekacauan terlihat dari :

Pelaksanaan Ujian Nasional di 11 Provinsi diundur (Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur) hal tersebut dikarenakan masalah pencetakan dan pendistribusian naskah soal ujian. Siswa SMA/MA terpaksa harus menunggu lebih lama untuk mengikuti Ujian Nasional dibandingkn daerah lainnya.

Soal UN tertukar , Akibat naskah soal UN yang diterima tertukar atau tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diuji, sebanyak lima sekolah di Banten gagal mengikuti Ujian Nasional (UN) di hari pertama. Kelima sekolah tersebut yaitu, SMAN 1 Kota Cilegon, SMAN 4 Kota Cilegon, SMAN 3 Kota Serang, SMA Nur Albantani Kota Serang, dan SMA Rachmatullah di Kota Serang.

Ujian Nasional Tanpa LJK , Ujian Nasional (UN) Bahasa Inggris di SMA Luar Biasa Wyata Guna Jl Pajajaran No 50, Bandung, Selasa (16/4/2013) tanpa lembar jawaban komputer (LJK). Peserta UN menjawab soal dengan tulis tangan pada lembar jawaban manual. Ini sudah berlangsung selama dua hari UN.

            Kertas Soal Ujian dan Lembar Jawaban Mudah Sobek , Banyak siswa peserta ujian nasional mengeluhkan kualitas kertas soal UN yang tipis menyebabkan jika lembar jawaban telah di isi dan ingin dihapus dikhawatirkan rusak.

            Soal Ujian Tak Datang, Siswa Gagal Ujian , di SMA Negeri 2 Payakumbuh.Sebanyak 84 siswa-siswi jurusan IPS, batal mengikuti ujian nasional hari pertama. Ini terjadi karena soal Bahasa Indonesia yang diujikan, tidak sampai ke sekolah di kawasan Bukiksitabuah, Nagari Aiatabik tersebut.

Banyak pihak berharap Pemerintah melalui Mendikbud seharusnya belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya agar pelaksanaan Ujian Nasional yang diselenggarakan tiap tahun ini bisa terlaksana dengan baik. Penundaan Pelaksanaan Ujian nasional tentu akan berimbas pada pengumuman kelulusan atau terkendalanya peserta yang mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi.

Dari sisi Pemerintah , Presiden SBY seharusnya tegas terhadap Pelaksanaan Ujian Nasional SMA tahun 2013 (pelaksanaan ujian nasional terjelek sepanjang sejarah Ujian Nasional digelar di negeri ini) . Presiden SBY juga harus mengevaluasi kinerja Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta memberi teguran keras agar tidak terus mengulang keteledoran serupa, atau kalau perlu dicopot dan diganti. Kinerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dinilai sangat memprihatinkan. Tertundanya pelaksanaan Ujian Nasional UN di sebelas provinsi semakin melengkapi parahnya kinerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama enam bulan terakhir. Namun , pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh yang cuci tangan dan melempar permasalahan ini kepada pihak percetakan. Semua masalah kesiapan Ujian Nasional adalah menjadi tanggung jawab Mendikbud.  Sebelumnya pak Mendikbud menjamin bahwa pelaksanaan Ujian Nasional akan tepat waktu, tepat distribusi dan tepat jumlah soal UN.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh mengatakan, hasil ujian nasional (UN) SMA/SMK sederajat tahun 2013 tetap sah. Penundaan waktu pelaksanaan UN di 11 provinsi, menurut Nuh, tidak bisa membatalkan hasil UN.

Seperti diberitakan, keabsahan UN SMA/SMK sederajat tahun ini diragukan banyak pihak. Pasalnya, banyak prosedur standar yang dilanggar, mulai dari pelaksanaan yang tidak serempak, naskah soal dan lembar jawaban yang difotokopi, hingga lembar jawaban fotokopi yang tanpa barcode. Bisa dibayangkan, 22 provinsi sudah bekerja dan berjuang lalu tiba-tiba dibatalkan. Di 11 provinsi juga demikian. Oleh karena itu, kita hargai itu semua sehingga tidak serta-merta karena pergeseran lalu dibatalkan.

Dari beberapa pihak yang seharusnya memberikan semangat kepada peserta Ujian Nasional , memberikan support , tetapi pada kenyataannya beberapa pihak tersebut justru terkesan saling melempar kesalahan tersebut. Hal yang harus dipertanyakan dari pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini adalah bagaimanakah dengan kualitas siswa yang berhasil lulus Ujian Nasional tahun ini ? Apakah mampu menciptakan lapangan kerja baru ? Apakah mampu bersaing dengan di dunia kerja ? Apakah akan menambah jumlah pengangguran di Indonesia atau mampu mengurangi angka pengangguran di Indonesia ?

            Masalah ketenagakerjaan di Indonesia sekarang ini sudah mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan. Hal itu ditandai dengan jumlah penganggur dan setengah penganggur yang besar, pendapatan yang relatif rendah dan kurang merata. Kondisi pengangguran dan setengah pengangguran yang tinggi merupakan pemborosan sumber daya dan potensi yang ada, menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang.

Angka pengangguran pemuda di Indonesia lima kali lebih tinggi yang merupakan tantangan bagi pemerintah. Perekonomian Indonesia sejak krisis ekonomi pada pertengahan 1997 membuat kondisi ketenagakerjaan Indonesia ikut memburuk. Sejak itu pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tidak pernah mencapai 7-8 persen. Padahal masalah pengangguran erat kaitannya pada pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi ada , otomatis penyerapan tenaga kerja juga ada. Setiap pertumbuhan ekonomi satu persen , tenaga kerja yang terserap bisa mencapai 400ribu orang. Jika pertumbuhan ekonomi hanya 3-4 persen tentunya hanya akan menyerap 1,6juta tenaga kerja. Sementara pencari kerja rata-rata 2,5juta pertahun. Sehingga , setiap tahun pasti ada sisa pencari kerja yang tidak memperoleh pekerjaan dan menimbulkan penambahan angka pengangguran di Indonesia.

Bayangkan pada tahun 1997 , jumlah pengangguran terbuka mencapai 4,18juta. Pada tahun 1999 tercatat 6,03juta , tahun 2000 (5,81juta) , tahun 2001 (8,005juta) , tahun 2002 (9,13juta) , tahun 2003 (11,35juta) . Sementara itu data pekerja dan pengangguranmenunjukan tahun 2001 : usia kerja (144,033juta) , angkatan kerja (98,812juta) , penduduk yang kerja (90,807juta) pengangguran terbuka (8,005juta) , setengah pengangguran terpaksa (6,010juta) , setengah pengangguran sukarela (24,422juta) . Hingga tahun 2001 saja telah banyak pengangguran apalagi ditahun selanjutnya ? pasti ankga pengangguran semakin bertambah dan mengakibatkan kacaunya stabilitas perkembangan ekonomi di Indonesia.

Hingga saat ini, masalah pengangguran di Indonesia sepertinya tidak pernah terselesaikan secara tuntas. Kondisinya diperparah dengan persoalan ekonomi yang juga tidak kunjung selesai setelah terpuruk di akhir abad dua puluh yang lalu. Permasalahan lain, berkaitan dengan kualitas sumber daya manausia dari para penganggur sendiri, misalnya dari aspek tingkat pendidikan yang masih belum begitu bagus. Jika pun penganggur berkualifikasi pendidikan tinggi, sering dihadang oleh kesempatan kerja yang sangat terbatas. Bukan rahasia lagi, banyak mereka yang bekerja pada posisi yang sebetulnya bisa diisi oleh mereka yang berpendidikan rendah atau menengah. Keadaan seperti ini memunculkan fenomena mismatch, yaitu angkatan kerja yang bekerja pada posisi yang tidak sesuai dengan pendidikannya.

Selain karena sulitnya lapangan pekerjaan, persoalan pengangguran dihadapkan pula pada bermunculannya para penganggur baru, yaitu orang-orang yang baru lulus mengikuti pendidikan, kemudian meramaikan pasar kerja. Dalam kondisi penganggur lama, yaitu mereka yang pernah bekerja tetapi masih mencari pekerjaan belum tertangani, maka kedatangan penganggur baru di pasar kerja turut menambah rumitnya persoalan ketenagakerjaan di Indonesia.

Sementara itu , Dunia pendidikan saat ini sering dikritik oleh masyarakat yang disebabkan karena adanya sejumlah pelajar dan lulusan pendidikan tersebut yang menunjukkan sikap kurang terpuji. Hal tersebut masih ditambah lagi dengan adanya peningkatan jumlah pengangguran yang pada umumnya adalah tamatan pendidikan. Keadaan ini semakin menambah potret pendidikan kita makin tak menarik dan tak sedap dipandang makin menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap wibawa dunia pendidikan kita. Jika keadaan yang demikian tidak segera dicari solusinya, maka akan sulit mencari alternatif yang lain yang paling efektif untuk membina moralitas masyarakat.Berbagai solusi untuk memperbaiki dunia pendidikan dan mencari sebab-sebabnya merupakan hal yang tidak dapat ditunda lagi.

Kecenderungan pengangguran terdidik di Negara Indonesia semakin meningkat namun upaya perluasan kesempatan pendidikan dari pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi tidak boleh berhenti. Akan tetapi pemerataan pendidikan itu harus dilakukan tanpa mengabaikan mutu pendidikan itu sendiri. Karena itu maka salah satu kelemahan dari sistem pendidikan kita adalah sulitnya memberikan pendidikan yang benar-benar dapat memupuk profesionalisme seseorang dalam berkarier atau bekerja. Saat ini pendidikan kita terlalu menekankan pada segi teori dan bukannya praktek. Pendidikan seringkali disampaikan dalam bentuk yang monoton sehingga membuat para siswa menjadi bosan. Para siswa/siswi peserta Ujian Nasional SMA dituntut mampu berfikir kreatif , inovatif ,disiplin , sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru yang nantinya akan mengurangi angka pengangguran di Indonesia .

Seharusnya pemerintah lebih selektif lagi dalam menyeleksi siswa yang patut dan layak untuk di luluskan , dan dengan adanya ujian nasional setiap tahunnya pemerintah lebih memperketat kerahasiaan soal ujian , disiplin , tepat waktu sehingga kejadian seperti tahun ini tidak terulang kembali ditahun yang akan datang.

Meski belum mampu menyediakan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak kita tetapi paling tidak berikanlah mereka pendidikan yang tepat dan benar.

BAB III. PENUTUP

III.1. Kesimpulan

            Masyarakat luas harus ambil bagian dalam meyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. Pemerintah jelas memiliki andil dalam masalah ini. Secara konstitusional ini tugas mereka, namun secara moral ini adalah tugas kita semua.Semua anak Indonesia belajar untuk meraih masa depan. Tak terkecuali anak-anak Indonesia yang berada di ujung-ujung pulau Indonesia, mereka punya cita-cita dan harapan dalam menyongsong masa depannya. Mimpi mereka adalah pekerjaan rumah yang berat untuk bangsa ini, untuk pemerintah, dan tentu saja untuk kita semua. mimpi dan harapan anak Indonesia akan terwujud bila Indonesia memiliki banyak tenaga pengajar yang tulus dalam mendidik murid-muridnya.

Rasa tulus tersebut yang akan menyebabkan proses belajar mengajar menjadi lebih berkualitas.  Dan akan sulit untuk dijalankan bila  masih ada beban yang di pikul oleh para pengajarnya.Ini terjadi karena selama proses belajar mengajar, yang terjadi hanyalah usaha terbaik yang diberikan oleh para pendidik, tanpa memikirkan imbalan dalam bentuk apa pun.

Daftar Pustaka

http://infomistik.com/presiden-sby-harus-tegas-pelaksanaan-ujian-nasional-sma-tahun-2013-amburadul-300.html  : Pendapat beberapa pihak presiden SBY harus tegas.

http://www.update-berita.com/2013/04/7-kekacauan-pelaksanaan-ujian-nasional.html : 7 Kekacauan pelaksanaan Ujian Nasional SMA dan sederajat.

http://id.scribd.com/doc/15891512/Makalah-Masalah-Pengangguran-Ekonomi  : Angka Pengangguran di Indnesia

http://bekompas.blogspot.com/2011/10/contoh-makalah-berjudul-penyebab.html : Faktor Penyebab Pengangguran.

http://farida90.blogspot.com/2010/01/kelemahan-sistem-pendidikan-di.html : Kelemahan Sistem Pendidikan.

http://kajianpsikologi.guru-indonesia.net/artikel_detail-42729.html : Hasil UN SMA dan sederajat tak bisa dibatalkan .

http://kajianpsikologi.guru-indonesia.net/artikel_detail-42730.html : Tidak ada kebocoran soal Ujian Nasional SMA dan sederajat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s