TUGAS SOFTSKILL

KASUS KORUPSI ANAK MENTERI KOPERASI

JAKARTA, KOMPAS.com , Oktober 2013 Hendra ditangkap di Samarinda karena kasus korupsi. Padahal hendra hanyalah seorang office boy di perusahaan Riefan. Bagaimana bisa seorang office boy yang tidak memiliki uang dan jabatan penting melakukan korupsi? Tak tamat SD kok bisa jadi direktur?

Dalam kasus ini, Hendra memang diposisikan sebagai Direktur Utama PT Imaji Media. Namun, sehari-hari Hendra menjadi office boy dan sering diperintahkan membeli sesuatu ke warung, mengantarkan makanan, dan menjadi sopir. Meskipun Hendra menjabat direktur saat itu, kehidupan keluarganya juga tak berubah. Nyatanya, Hendra memang tak pernah menerima gaji sebagai direktur. Menurut Hendra, ia dipaksa menjadi direktur oleh Riefan. Riefan sengaja mendirikan PT Imaji Media untuk mendapatkan proyek di kementerian yang dipimpin ayahnya itu. Saat itu, Riefan meminjam KTP Hendra dan memaksanya menandatangani sejumlah dokumen.

Hingga akhirnya, PT Imaji Media pun memenangkan lelang pengadaan dua unit videotron dengan nilai pagu dipa Rp 25,501 miliar. Padahal, perusahaan ini baru didirikan dan belum memiliki pengalaman pengerjaan videotron. Kemudian ditandatanganilah kontrak perjanjian proyek videotron antara Hendra dan Hasnawi Bachtiar (almarhum) selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Meski demikian, Hendra tak melakukan pekerjaan seperti dalam kontrak karena ia tak memiliki kemampuan di bidang tersebut. Proyek videotron pun dikerjakan oleh Riefan.

Sementara itu, pembayaran proyek videotron masuk ke rekening Hendra selaku Dirut PT Imaji Media. Namun, rekening ini juga dikuasai oleh Riefan. Dari Riefan, Hendra kemudian mendapat bagian Rp 19 juta. Setelah itu, Riefan meminta Hendra meninggalkan Jakarta dan menjual PT Imaji Media.

Hendra mengaku terpaksa mengikuti perintah Riefan karena ia takut kehilangan pekerjaan. Menurut Hendra, sejak ia ditetapkan sebagai tersangka hingga kini, Riefan pun tak pernah menghubunginya. Hendra menduga Riefan saat ini berada di tempat tinggalnya di apartemen Senayan, Jakarta.

Tidak ada kejelasan mengenai status hukum Riefan dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Dalam dakwaan Hendra yang disusun jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, nama Riefan disebut bersama-sama Hendra melakukan korupsi. Selain itu, tertulis juga dalam dakwaan “Riefan Avrian selaku Direktur Utama PT Rifuel (dituntut dalam berkas perkara terpisah)”. Selain Hendra, Hasnawi juga ditetapkan sebagai tersangka. Namun, penyidikan Hasnawi dihentikan karena ia meninggal dunia dalam tahanan pada 25 Maret 2014 lalu. Hasnawi diduga meninggal karena serangan jantung.
Riefan yang sepantasnya menjadi tersangka terlebih dulu. Kemudian berkas perkaranya bisa dijadikan satu dengan tersangka lain karena rangkaian perbuatannya sama. Dalam kasus ini mestinya yang jadi tersangka adalah Riefan. Tapi karena anak menteri dari penguasa menjadikan Kejati berada dalam tekanan untuk tidak memproses anak menteri. Hendra adalah sopir dan office boy di perusahaan Riefan, PT Rifuel. Dalam dakwaan Hendra, Riefan sengaja mendirikan perusahaan PT Imaji Media untuk mendapatkan proyek pengadaan videotron di kementerian yang dipimpin ayahnya.

Pemilik PT Imaji Media, sekaligus anak Syarief Hasan, Riefan Afrian resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi Videotron oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Hal itu terungkap dari surat dakwaan Direktur Utama PT Imaji Media, Hendra Saputra, yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum yang diketahui oleh Jaksa Elly Supaini di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Namun demikian, Jaksa menyatakan bahwa Hendra dan Riefan di tuntut dalam berkas perkara yang terpisah.
Marta yang bertindak sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga mengungkapkan bahwa putra Menkop UKM itu telah mengangkat seorang supir atau pesuruh di PT Imaji Media sebagai direktur utama di perusahaan tersebut. Sedangkan diketahui, Riefan sendiri adalah pemilik PT Imaji Media, anak perusahaan PT Rifuel.

Sedangkan maksud Riefan mengangkat seorang Hendra sebagai Dirut hanya untuk mengikuti lelang proyek pengadaan viedo tron di Kementerian yang dipimpin bapaknya tersebut.
Padahal, Hendra sendiri tak memiliki ijazah pendidikan. Riefan kemudian mengarahkan Hendra sebagai Dirut PT Imaji Media agar memenuhi syarat demi memenangkan lelang proyek tersebut. Setelah memenuhi persyaratan, Kemenkop UKM menunjuk PT Imaji Media sebagai pemenang lelang pengadaan itu.

Setelah dapat proyek, Hendra lantas menyerahkan pengerjaan proyek itu kepada Riefan yang juga merupakan Direktur Utama PT Rifuel. Belakangan, penyerahan pengerjaan proyek senilai Rp 23 miliar itu tidak dilengkapi dengan kontrak addendum, sehingga dianggap melawan hukum.

Sebagai informasi, selain Hendra Saputra, penyidik Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta pada kasus ini juga menetapkan 2 orang tersangka lainnya, yakni Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Hasnawi Bachtiar dan anggota panitia penerima barang dan jasa, Kasiyadi.
Belakangan Hasnawi meninggal dunia dalam Rumah Tahanan (Rutan) Cipinang karena diduga sakit. Sedangkan Kasiyadi sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya, meski Kejaksaan Agung menyatakan yang bersangkutan masih hidup.

Adapun baik Hendra, Hasnawi (alm), dan Kasiyadi diduga telah melakukan pekerjaan fiktif dan pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi teknis. Ketiganya disangka melanggar Pasal 2, Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah menjadi UU Nomor 20 tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 KUHPidana.

Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Sprindik nomor, yakni Prin-894/0.1/Fd.1/06/2013 untuk tersangka Hasnawi, Prin-895/0.1/Fd.1/06/2013 untuk tersangka Kasiyadi, dan Prin-893/0.1/Fd.1/06/2013 untuk tersangka Hendra.
Anehnya, sampai saat ini, pihak Kejaksaan belum juga mengumumkan Riefan sebagai tersangka kepada publik, meski sudah memberikan titel “pesakitan korupsi” dalam di surat dakwaan Hendra. (BN).

PENDAPAT :
Menurut saya , jelas dalam kasus ini keadilan patut di pertanyakan , karena Anak Menteri kasusnya tidak di proses secara jelas atau terlihat enggan untuk memproses. Sedangkan fenomena ketidakadilan terhadap Hendra yang seorang office boy dan supir itu dijadikan alat untuk memenangkan lelang proyek videotron tersebut . Apa seperti ini perwujudan dari demokrasi ? Kenapa perusahaan baru yang belum memiliki pengalaman justru memenangkan lelang , bisa memenuhi persyaratan . Dan saya harapkan untuk kedepannya semoga gak terjadi lagi kasus kasus seperti ini , hukum adalah hukum , yang salah ya dihukum sesuai UU tidak perduli siapa dan mempunyai jabatan apa orangtua nya . Untuk pengadaan proyek , harus lebih di tingkatkan / lebih selektif lagi dalam penyeleksian berkas perusahaan dan dari pengangkatan SDM harus sesuai dengan keahlian dan kemampuannya sehingga tidak terjadi lagi kasus seperti ini menumbalkan orang yang tidak bersalah. Sekian 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s